Sunday, 7 October 2018

Kemelut di Majapahit

Dikisahkan sebuah kerajaan Majapahit, kala itu terkuak cerita tentang pengangkatan seorang raja baru di kerajaan Majapahit. Raja tersebut bernama Raden Wijaya. Pengangkatan raja pertama tersebut diberi gelar Kertarajasa Jayawardhana. Sejak saat itulah Raden Wijaya menjadi raja yang disegani oleh seluruh rakyat Majapahit.
Dibalik kesuksesan Raden Wijaya menjadi Raja di Majapahit ternyata ada para senopati (perwira) yang setia dan selalu membantunya, Raden Wijaya tidak bisa melupakan jasa-jasa para senopati lalu ia membagi-bagikan pangkat kepada mereka. Ronggo Lawe salah seorang pati yang amatlah baik dan erat hubungannya dengan raja yang diangkat menjadi Adipati di Tuban.
Suasana tentram dan damai mulai diguncangkan oleh ketika Sang Prabu menikahi empat orang putri mendiang Raja Kertanegara, tak berselang lama raja pun menikah lagi dengan putri dari Melayu. Sebelum menikahi putri dari melayu beliau menikahi empat orang putri mendiang raja kertanegara karena beliau tidak ingin adanya dendam dan perebutan kekuasaan kelak. Keempat orang putri itu adalah Dyah Tribunan, Dyah Nara Indraduhita, Dyah Jaya Inderadewi, dan Retno Setiawan atau Rajapatni yang paling dikasihinya. Raja tidak puas dengan keempat istrinya itu ia pun menikahi Dyah Dara Petak menjadi istri kelimanya. Terjadilah persaingan diantara istri-istri raja terhadap Dyah Dara Petak yang amat cantik jelita mereka berlomba-lomba mendapatkan perhatian dan kasih saya dari raja namun raja tidak menyadari persainagn diantara mereka, karena dilakukan secara diam-diam.
Persaingan istri-istri raja tidak seberapa hebat sebagai akibat di kehidupan sang prabu. Ada hal yang membakar hati Ronggo Lawe yaitu pengangkatan patih hamangkubumi, yaitu petih kerajaan Majapahit. Diangkat oleh sang Prabu menjadi pembesar yang tertinggi dan paling berkuasa sesudah raja yaitu senopati Nambi.
Mendengar pengangkatan itu marahlah Adipati Ronggo Lawe, saat sedang makan beliau langsung membantingkan nasi yang dikepalnya ke lantai yang disuguhkan oleh kedua istri setianya yang amat menyayangi Ronggo Lawe.
Kemarahan Ronggo Lawe membuat cemas kedua istrinya dan mencoba menenangkan “Kakangmas adipati, harap paduka tenang” Dewi Mertorogo menghibur suaminya. Kemarahan tersebut membuat Ronggo Lawe bergegas pergi untuk menghadap Prabu Raden Wijaya dengan menumpangi kuda kesayangannya yang dijuluki Mego Lamat.
Sesampainya di kerajaan Ronggo Lawe mengatakan kepada raja bahwa telah keliru atas pengangkatan Nambi menjadi pembesar di kerajaan Majapahit. Semua yang ada di sana terkejut atas pernyataan yang dilontarkan oleh Ronggo Lawe kepada Prabu. Namun, dengan lembut dan berwibawanya Raja Raden Wijaya menanggapinya dengan tenang dan senyuman.
Ronggo Lawe terus saja mengatakan perkataan yang amat sangat menyinggung Nambi “lemah, bodoh, rendah budi, penakut” tidak pantas Nambi menjadi pembesar di kerajaan.
Setelah mendengar ucapan yang dilontarkan Ronggo Lawe, Raja Raden wijayapun berucap “Kakang Ronggo Lawe, tindakanku mengangkat kakang Nambi sebagai patih hamengkubumi, bukanlah tindakan ngawur melainkan sudah dipertimbangkan masak-masak bahkan telah mendapatkan persetujuan dari semua paman dan kakang senopatin dan semua pembantuku”.
Dengan muka merah Ronggo Lawe pun berkata dengan lantangnya “Tetap saja pengangkatan ini tidak tepat”.
Akhirnya dengan segala upaya yang diucapkan Raja untuk menenangkan Ronggo Lawe, ia pun memahami dengan besar hatinya. Dan hubungan yang tadinya erat sekali antara Ronggo Lawe dan Raja Raden Wijaya merenggang atau putus tali persaudaraan diantara mereka.
Namun setelah beberapa lama kebusukan Nambi dan Dara Petak tercium oleh Raja, akhirnya Nambi dan Dara Petak diusir dari kerajaan, lalu Ronggo Lawe diangkat menjadi pembesar di kerajaan Majapahit.







Kemelut di Majapahit
(S.H. Mintardja)

            Setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama bergelar Kertaraja Jayawardhana. Ronggo Lawe diangkat menjadi adipati di Tuban dan yang lain-lain pun diberi pangkat pula.
            Akan tetapi, guncangan pertama yang mempengaruhi hubungan ini adalah ketika Sang Prabu telah menikah dengan empat putri mendiang Raja Kertanegara, telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu. Sebelum putri dari tanah Melayu ini menjadi istri kelima, Sang Prabu Kertajasa Jayawardhana telah mengawini semua putri mendiang Raja Kertanegara. Hal ini dilakukannya karena beliau tidak menghendaki adanya dendam dan perebutan kekuasaan kelak.
            Terjadilah persaingan di antara para istri ini, yang tentu saja dilakukan secara diam-diam namun cukup seru, persaingan dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian Sri Baginda yang tentu saja akan mengangkat derajat dan kekuasaan masing-masing.
            Tentu saja Ronggo Lawe, sebagai seorang yang amat setia sejak zaman Prabu Kertanegara, berpihak kepada Dyah Gayatri. Namun, karena segan kepada Sang Prabu Kertarajasa yang bijaksana, persaingan dan kebencian yang dilakukan secara diam-diam itu tidak sampai menjalar menjadi permusuhan terbuka.
            Pengangkatan ini memang banyak dipengaruhi oleh bujukan Dara Petak. Mendengar akan pengangkatan Patih ini, merahlah muka Adipati Ronggo Lawe. Ketika mendengar berita ini dia sedang makan, seperti biasa dilayani oleh kedua istrinya yang setia, yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati. Mendengar berita itu dari seorang penyelidik yang datang menghadap pada waktu sang adipati sedang makan, Ronggo Lawe marah bukan main. Nasi yang sudah dikepalnya itu dibanting ke atas lantai dan kerena kemarahan tadi sang adipati menggunakan aji kadigjayaannya, maka nasi sekepal itu amblas ke dalam lantai.
            Akan tetapi, Adipati Ronggo Lawe bangkit berdiri, membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua orang istrinya yang berusaha menghiburnya. “Aku harus pergi sekarang juga!” katanya. “Pengawal lekas suruh persiapkan si Mego Lamat di depan! Aku akan berangkat ke Mojopahit sekarang juga!” Mego Lamat adalah satu di antara kuda-kuda kesayangan Adipati Ronggo Lawe, seekor kuda yang amat indah dan kuat, warna bulunya abu-abu muda.
            Semua penghadap adalah bekas kawan-kawan seperjuangan Ronggo Lawe dan mereka ini terkejut sekali ketika melihat Ronggo Lawe datang menghadap raja tanpa dipanggil, padahal sudah agak lama Adipati Tuban ini tidak datang menghadap Sri Baginda. Sang Prabu sendiri memandang dengan alis berkerut tanda tak berkenan hatinya.
            Hebat bukan main ucapan Ronggo Lawe ini! Seorang adipati, tanpa dipanggil, berani datang menghadap sang Prabu dan melontarkan teguran-teguran seperti itu! Muka Patih Nambi sebentar pucat sebentar marah, kedua tangannya dikepal dan dibuka dengan jari-jari gemetar.

            “Kakang Ronggo Lawe, tindakanku mengangkat kakang Nambi sebagai patih hamangkubumi, bukanlah merupakan tindakan ngawur belaka, melainkan telah merupakan satu keputusan yang telah dipertimbangkan masak-masak, bahkan telah mendapat persetujuan dari semua paman dan kakang senopati dan semua pembantuku. Bagaimana kakang Ronggo Lawe dapat mengatakan bahwa pengangkatan ini tidak tepat dan tidak adil?”   
silahkan artikel lainnya klik disini
Kemelut di Majapahit
Dikisahkan di sebuah kerajaan yang bernama Majapahit ada seorang laki-laki bernama Raden Wijaya yang diangkat sebagain raja pertama kerajaan Majapahit. Beliau pun tidak melupakan jasa-jasa para senopati yang setia membantunya sejak dulu. Mereka masing-masing diberikan pangkat, Ronggo Lawe pun diangkat menjadi adipati di Tuban.
Sang Raja menikahi empat putri mendiang raja Kartanegara, ia menikahi empat putri tersebut karena beliau tidak ingin menghendaki adanya dendam dan perebutan kekuasaan kelak, tiba-tiba tanpa diduga oleh siapapun Sang Raja telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu. Istri-istri sang Raja amatlah terkejut. Keempat putri yang diperistrin oleh Raja Raden Wijaya antara lain Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, yang kedua Dyah Nara Indraduhita, yang ketiga Dyah Jaya Inderadewi yang sangat ia kasihi dibandingkan dengan istri yang lainnya dan yang keempat Dyah Gayatri yang merupakan putri bungsu dari mendiang Raja. Saat itu sang Prabu terpikat hatinya oleh seorang Putri yang bernama Dara Petak dan menjadikan istri yang kelima.
Kemudian terjadilah persaingan dari diantara para istri Raden Wijaya yang dilakukan secara diam-diam. Persaingan ini dilakukan secara diam-diam. Persaingan ini dilakukan untuk memperebutkan cinta serta kasih sayang dan perhatian dari sang Raja, tetapi Raja tidak menyadari akan persaingan tersebut, karena mereka tidak menunjukkannya di depan Raja. Namun persainagn tersebut terasa oleh para senopati, dari sanalah perpecahan secara diam-diam telah terjadi antara mereka yang berpihak kepada Dyah Gayatri selaku putri dari mendiang Raja dan mereka yang berpihak kepada Dara Petak selaku Putri dari keturunan negeri Melayu.
Ronggo Lawe berpihak kepada Dyah Gayatri karena ia adalah seorang istri yang amat setia saat zaman mendiang Raja Kartanegara. Persaingan pun dilakukan dengan sangat rapi, karena tidak ingin diketahui raja. Akan tetapi, pada saat itu terjadi hal yang membakar hati Ronggo Lawe, yaitu ketika diangkatnya Patih Hamengkubumi, Patih dikerajaan Majapahit. Sang Raja mengangkatnya menjadi pembesar yang tertinggi dan paling berkuasa setelah raja, yaitu senopati Nambi. Pengangkatan ini didasari dan dipengaruhi oleh bujuk rayu Dara Petak. Mendengar kabar itu Ronggo Lawe marang tak terbendung, ia yang sedang makanpun membantingkan nasi dipiringnya ke lantai, kedua istri Ronggo Lawe yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati pun terkejut atas hal yang dilakukan suaminya. Kedua istrinya pun menenangkan Ronggo Lawe agar tidak berlarut-larut dalam kemarahannya itu. Akan tetapi, ia sudah terlanjur marah dan ia pun pergi menghadap Sang Raja Raden Wijaya. Semula kedua istrinya mencegah Ronggo Lawe untuk pergi tapi Ronggo Lawe ngotot dan tetap pergi ke kerajaan Majapahit dan didampingi oleh kuda kesayangannya.
Tak lama diperjalanan, Ronggo Lawe tiba di kerajaan Majapahit. Semua penghuni kerajaan amat terkejut ketika Ronggo Lawe datang tak ada angin dan tak ada hujan datang ke kerajaan Majapahit tanpa dipanggil terlebih dahulu. Padahal sudah lama adipati Tuban ini tidak berunjung ke kerajaan Majapahit. Sang Raja terheran-heran dengan kedatangan Ronggo Lawe. Namun ia berfikir positif terhadap Ronggo Lawe karena Ronggo Lawe merupakan tulang punggungnya yang sangat setia dan mengabdi kepadanya. Didalam kemarahan dan kekecewaan hatinya, Ronggo Laweu pun menyembah dan berkata dengan suara lantang. “Hamba sengaja mendatangi kerajaan ini menghadap paduka dengan maksud untuk mengingatkan paduka dari kekhilafan yang paduka lakukan diluar kesadaran Paduka!” Semua orang yang menyaksikan kerajaan tersebut langsung terbelalak ketika mendengar apa yang diucapkan Ronggo Lawe terhadap sang Raja. Sang Raja pun memandangnya dengan mata penuh perhatian, kemdudian dengan kewibawaannya ia bertanya “Kakang Ronggo Lawe, apakah meksudmu dengan ucapan itu?” Ronggo Lawe pun menjawab pertanyaan Raja Raden Wijaya dengan lantang dan tanpa adanya keraguan “Yang hamba maksudkan tidak lain dan tidak bukan adalah pengangkatan Nambi sebagai patih Paduka! Keputusan yang paduka ambil ini sungguh tidak tepat dan tidak bijaksana. Hamba yakin bahwa paduka telah terbujuk dan dipengaruhi oleh suara di belakang! Pengangkatan Nambi sebagai Patih Hamangkubumi merupakan suatu kekeliruan ynag sangat besar. Padahal paduka terkenal sebagai seorang Maharaja yang arif, bijaksana, dan adil!”
Sungguh hebat sekali ucapan yang dilontarkan oleh Ronggo Lawe itu, ia tidak ragu menghadap snag Raja tanpa dipanggil dan menegur Raja dengan lantangnya. Semua senopati dan pembesar yang saat itu ada di tempat kejadian sangat terkejut dan sebagian besar marah sekali, tetapi mereka tidak berani mencampuri urusan itu karena menghormati Sang Raja. Tetapi, Sang Raja tetap tenang bahkan tersenyum ketika memadang Ronggo Lawe, lalu berkata “Kakang Ronggo Lawe, tindakanku mengangkat Kakang Nambi sebagai patih Hamangkubumi bukanlah tindakan ngawur belaka, melainkan telah dipikirkan secara matang, bahkan telah mendapat persetujuan dari semua paman dan kakang senopati serta semua pembantuku. Bagaimana Kakang Ronggo Lawe bias mengatakan bahwa pengangkatan itu tidak tepat dan tidak adil?” Dengan suara yang dirundung oleh amarah, Ronggo Lawe berkata lantang “Tentu saja tidak tepat! Paduka sendiri tahu siapa itu Nambi! Paduka tentu masih ingat akan segala tindak-tanduk dan sepak terjangnya dahulu! Dia itu seorang bodoh, lemah, rendah budi, penakut, tidak sama sekali memiliki kewibawaan” . mendengar ucapan itu, Raja tetap bersikukuh bahwa pilihan mengangkat Nambi sebagai Patih adalah keputusan tepat. Hal it membuat Ronggo Lawe marahnya memuncak dan tidak dapat diredam lagi. Ronggo lawe pun berkata ”Hamba sangat kecewa dengan keputusan yang paduka ambil. Mulai saat ini dan detik ini juga tali persaudaraan yang sudah kita rajut bersama sampai cukup disini! Jangan pernah cari hamba apabila ada sesuatu yang terjadi dengan paduka dan kerajaan Paduka! Hamba cukup sakit dengan semua yang telah paduka lakukan ini!”. Setelah mengucapkan ucapan kata tersebut Ronggo Lawe pun pergi meninggalkan kerajaan Majapahit dengan kekecewaan yang sangat mendalam. Raja pun snagat sedih dengan hal yang dilakukan oleh Ronggo Lawe. Ia sempat mencegah agar Ronggo Lawe tidak pergi, tapi Ronggo Lawe membulatkan tekad untuk pergi jauh serta meninggalkan semua kenangan bersama Raden Wijaya.
Akhirnya, putus sudah tali persaudaraan diantara mereka yang sudah terjalin sekian lama. Raja pun berharap semoga Ronggo Lawe tetap dalam keadaan baik-baik saja, meskipun sudah tidak berada disisinya lagi sebagai orang setia mendampingi Raja. Ia akan tetap dan selalu mengenang masa-masa indahnya ketika masih bersama dengan Ronggo Lawe.




Kemelut di Majapahit

Raden Wijaya bermimpi ingin menjadi Raja Majapahit kemudian berusaha dengan letih untuk mewujudkan cita-citanya. Akan tetapi perjuangannya tidak sangatlah mudah, kemudian Raden Wijaya dibantu oleh para senopati (perwira) hari demi hari Raden Wijaya berhasil melewati rintangan yang dialaminya.
Pada tahun 1293 abad ke 4 Masehi, Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana, namun beliau tidak pernah melupakan jasa para senopati (perwira) karena mereka telah setia dan banyak membantu untuk mewujudkan cita-citanya. Sebagai ucapan terima kasihnya beliau memberikan pangkat kepada mereka. Ronggo Lawe diangkat menjadi Adipati di Tuban dan hubungan mereka menjadi sangatlah erat dan baik.
Akan tetapi, kerajayaan Majapahit mengalami guncangan yang pertama sehingga memengaruhi hubungan mereka menjadi tidak baik yang disebabkan karena sang prabu menikah dengan seorang putri dari Melayu. Sebelum putri Melayu menjadi istri kelima, Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana telah menikahi empat orang putri mendiang Raja Kertanegara, hal ini bertujuan agar tidak adanya dendam dan perebutan kekuasaan.
Nama keempat putri itu adalah Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, yang kedua Dyah Nara Indradhuhita, yang ketiga adalah Dyah Jaya Inderadewi, dan putri yang paling bungsu adalah Retno Sutawan atau Rajapatni putri yang paling dikasihinya. Dyah Gayatri ini putri yang paling bungsu yang sangatlah cantik jelita seperti seorang dewi yang turun dari kahyangan, kecantikkannyapun sangatlah terkenal dan dipuja-puja oleh para sastrawan dimasa itu. Akan tetapi, datanglah pasukan yang diutus oleh prabu Kartanagara ke negeri Malayu. Pasukan ini dinamakan pamalayu yang dipimpin oleh Kebo Anabrang atau Mahisa Anabrang, nama yang diberikan oleh sang prabu karena dia bertugas sebagai penyebrang (Anabrang) ke negeri Malayu. Pasukan ekspedisi yang berhasil membawa dua orang putri bersaudara. Putri yang kedua paling muda bernama Dara Petak, sang Prabu Kartarajasa terpikat hatinya oleh kecantikan Dara Petak, maka dipinanglah Dara Petak untuk dijadikan istri kelima, kemudian pernikahan itu menimbulkan persaingan kuat antara Dyah Gayatri dan Dyah Petak, karena Dyah Petak memang sangatlah cantik jelita dan pandai membawa diri. Sang Prabu sangat mencintai istri termuda itu kemudian diberi nama Sri Indraswari.
Kejadian itu menimbulkan persaingan diantara para istri, yang dilakukan secara diam-diam dan semakin memanas, persaingan dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian Sri Baginda yang tentu saja akan mengangkat derajat dan kekuasaan masing-masing. Sang Prabu kurang menyadari persaingan ini. Pengaruh persaingan itu terasa benar oleh para senopati dan mulailah terjadi perpecahan diantara mereka, sebagian pihak mendukung Dyah Gayatri keturunan mendiang Sang Prabu Kartanegara, dan kepada Dara Petak keturunan Malayu.
Ronggo Lawe sebagai seorang yang setia sejak zaman Prabu Kartanegara berpihak kepada Dyah Gayatri. Namun karena segan kepada sang Prabu Kertarajasa yang bijaksana, persaingan dan kebencian yang dilakukan secara diam-diam itu tidak menjalar menjadi permusuhan terbuka. Masuknya Dara Petak ke dalam kehidupan sang Prabu menyulut panasnya hati Ronggo Lawe, yaitu pengangkatan Senopati Nambi sebagai patih Hamangkubumi, patih kerajaan Majapahit yang menjadi pembesar yang tertinggi dan paling berkuasa sesudah raja.
Pengangkatan ini memang banyak terpengaruh oleh bujukan Dara Petak. Pengangkatan tersebut pun sampai di telinga Adipati Ronggo Lawe ketika sedang makan, yaitu seperti biasa dilayani oleh dua orang istri yang setia, yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati. Mendengar berita itu Ronggo Lawe marah besar. Nasi yang dikepalnya dibanting ke lantai karena dalam kemarahan sang adipati menggunakan aji kadigjayaan, maka nasi sekepal itu amblas ke dalam lantai. Kemudian ujung meja itu diremas sampai hancur oleh Ronggo Lawe.
“Kakangmas adipati…..harap paduka tenang…” Dewi Mertorogo menghibur suaminya. “Ingatlah, kakangmas adipati sungguh merupakan hal yang kurang baik mengembalikan berkah Ibu Pertiwi seperti itu….” Tirtowati juga memperingati karena melempar nasi ke atas lantai seperti itu penghinaan terhadap Dewi Sri dan dapat menjadi kualat. Akan tetapi, Adipati Ronggo Lawe bangkit berdiri, membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua istrinya yang berusaha menghiburnya. “Aku harus pergi sekarang juga!” kata Ronggo Lawe. “Pengawal lekas suruh persiapkan si Mego Lamat di depan! Aku akan berangkat ke Majapahit sekarang juga!” Mego Lamat adalah satu diantara kuda-kuda kesayangan Adipati Ronggo Lawe, seekor kuda yang amat Indah dan kuat, warna bulunya abu-abu muda. Semua cegahan kedua istrinya sama sekali tidak didengarkan oleh adipati yang sedang marah.
Tak lama kemudian, hanya suara derap kaki Mego Lamat yang berlari congkalang yang memecah kesunyian gedung kadipaten itu, mengiris perasaan dua orang istri yang mencintai dan mengkhawatirkan keselamatan Ronggo Lawe yang sedang marah. Pada waktu itu, sang Prabu sedang dihadap oleh para senipati dan punggawa. Semua penghadap adalah kawan-kawan seperjuangan Ronggo Lawe dan mereka sangat terkejut melihat Ronggo Lawe datang menghadap raja tanpa dipanggil, padahal sudah lama Adipati Tuban ini tidak datang menghadap Sri Baginda. Sang Prabu sendiri juga memandang dengan alis berkerut tanda tidak berkenan hatinya dan segera menyapa Ronggo Lawe. Di dalam kemarahan dan kekecewaan, Adipati Ronggo Lawe masih ingat untuk mengucapkan salamnya, tetapi setelah semua salam tata susila ini selesai, serta merta Ronggo Lawe menyembah dan berkata dengan suara lantang, “Hamba sengaja datang menghadap paduka untuk mengingatkan paduka dari kekhilafan yang paduka lakukan diluar kesadaran paduka!” Semua muka para penghadap raja menjadi pucat mendengan ucapan ini, dan semua jantung di dalam dada berdebar tegang. Mereka semua mengenal belaka sifat dan watak Ronggo Lawe, banteng Mojopahit yang gagah perkasa dan selalu terbuka, polos, jujur, dalam mengemukakan suara hatinya, tidak akan mundur setapak pun dalam membela hal yang dianggap benar. Sang Prabu memandang dengan mata penuh perhatian, kemudian dengan suara tenang bertanya, “Kakang Ronggo Lawe, apa maksudmu dengan ucapan itu?”
“Yang hamba maksudkan tidak lain adalah pengangkatan Nambi sebagai Pepatih Paduka! Keputusan yang paduka ambil ini sungguh-sungguh tidak tepat, tidak bijaksana dan hamba yakin bahwa paduka tentu telah terbujuk dan dipengaruhi oleh suara dari belakang! Pengangkatan Nambi sebagai patih hamangkubumi sungguh merupakan kekeliruan yang besar, tidak tepat dan tidak adil, padahal paduka terkenal sebagai seorang maharaja yang arif bijaksana dan adil!”
Hebat bukan main ucapan Ronggo Lawe! Seorang adipati tanpa dipanggil, berani datang menghadap sang prabu dan melontarkan teguran-teguran! Muka Patih Nambi pucat dan memerah, kedua tangannya dikepal dan dibuka dengan jari-jari gemetar. Senopati Anabrang mukanya memerah seperti udang rebus, matanya yang lebar itu seperti mengeluarkan api ketika dia melihat ke arah Ronggo Lawe. Lembu Sora yang sudah tua itu mukanya menjadi pucat, tak mengira bahwa keponakannya itu akan seberani itu. Senopati-senopati galak Sarkono dan Mayang Mekar memandang dengan mata yang tajam. Pendeknya, semua senopati dan pembesar yang saat itu menghadap sang prabu dan mendengan ucapan-ucapan Ronggo Lawe, semua terkejut dan sebagian besar marah sekali, tetapi mereka tidak berani mencampuri karena mereka menghormati sang prabu. Akan tetapi, Sang Prabu Kertarajasa tetap tenang, bahkan tersenyum memandang kepada Ronggo Lawe, ponggawanya yang dia tahu amat setia kepadanya itu, lalu berkata halus, “Kakang Ronggo Lawe, tindakanku mengangkat Kakang Nambi sebagai patih hamangkubumi, bukanlah merupakan tindakan ngawur belaka, melainkan merupakan suatu keputusan yang telah dipertimbangkan matang-matang, bahkan telah mendapatkan persetujuan dari semua paman dan kakang senopati dan semua pembantuku. Bagaimana kakang Ronggo Lawe dapat mengatakan bahwa pengangkatan itu tidak tepat dan tidak adil?” Dengan muka merah, kumisnya yang seperti kumis sang Gatotkaca itu bergetar, napas memburu karena desakan amarah, Ronggo Lawe berkata lantang. “Tentu saja tidak tepat! Paduka sendiri tahu siapa si Nambi itu Paduka tentu masih ingat akan segala sepakterjang dan tindak-tanduknya dahulu! Dia seseorang yang bodoh, lemah, rendah budi, penakut, sama sekali tidak memiliki wibawa….”
Semenjak Sang Prabu mengetahui Kakang Nambi bekerjasama dengan Dara Petak, Sang Prabu Kertarajasa merasa kecewa dan merasa dikhianati, kemudian kaknng Nambi saat pemelihan patih akakang Nambi pun dihukum penjara dan pengangkatan patih hamengkubumi digantikan oleh Ronggo Lawe.
Dan setelah pengangkatan patih hamangkubumi tersebut diganti oleh Ronggo Lawe, kehidupan di kerajaan Majapahit pun menjadi aman, tentram, damai dan makmur.


Friday, 5 October 2018

Nama               : Laeli Ulfi Herawati
Kelas               : XII IPS 4

Kemelut di Majapahit

Malam yang gelap sunyi sepi angin sepoy-sepoy berhembus ke dalam seluruh badan. Pada kala itu, cerita pengangkatan seorang Raja baru di Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang begitu terkenal akan keelokan dan kemegahannya. Raja baru itu bernama Raden Wijaya. Sejak saat itulah ia menjadi orang yang paling disegani oleh seluruh rakyat Majapahit.
Pengangkatan Raden Wijaya menjadi seorang Raja adalah kali pertama pergantian Raja di Kerajaan Majapahit. Setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja di Kerajaan Majapahit dengan bergelar Kertarajasa Jayawardhana, ia harus bertanggungjawab memikirkan segala bentuk tanggungjawabnya di Kerajaan Majapahit, mensejahterakan seluruh rakyatnya dengan menjadi pemimpin yang baik dan adil di mata seluruh rakyatnya, dan bijaksana. Tidak hanya itu, simpati para senopatipun harus ia dapatkan agar menjadi Raja yang baik.
Ia tidak lupa terhadap jasa-jasa para Senopati (Perwira) yang selalu setia mendampinginya disaat suka maupun duka. Salah seorang yang setia mendampingi yaitu Ronggo Lawe yang sudah dianggapnya seperti saudaranya sendiri diangkat menjadi Pati di Tuban. Ronggo Lawe pun gembira tiadak disangka dengan diberikannya pangkat tersebut. Hubungan Raja dengan para pembantunya sangatlah baik dan erat. Maka, ia sangat disayangi oleh semua orang.
Akan tetapi, ditengah-tengah kegembiraan, terdapat guncangan yang mengguncangkan memengaruhi hubungan baik mereka. Ketika Sang Raja telah menikah dengan empat putri mendian Raja Kertanegara, Ia menikahi empat putri tersebut karena ia tidak menghendaki adanya dendam dan perebutan kekuasaan kelak. Tiba-tiba, tidak diduga oleh siapapun ia telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu. Keempat putri yang diperistri oleh Raja antara lain Dyah Tribunan, yang menjadi permaisuri, yang kedua Dyah Nara Indraduhita, yang ketiga Dyah Daya Inderadewi yang juga disebut Retno Sutawan atau Rajapatni yang ia sangat kasihi dibandingkan istri-istri yang lain. Dan yang keempat Dyah Gayatri yang merupakan putri bungsu yang cantik jelita seperti seorang bidadari yang turun dari kahyangan. Seorang istri tersebut sangatlah terkenal dengan paras kecantikannya dan dipuja-puja oleh para sastrawan di masa itu.
Sang Raja belum puas mempunyai empat orang istri, dan ia menikahi Seorang Putri dari Malayu. Pasukan Pamalayu datang ke kerajaan Majapahit. Pasukan Pamalayu merupakan pasukan yang beberapa tahun lalu diutus oleh Mendiang Sang Prabu Kertanegara ke Negeri Melayu. Pasukan ini dipimpin oleh Kebo Anabrang seorang senopati yang gagah perkasa. Pasukan tersebut telah menjalani tugasnya yaitu menyebrang ke Negeri Malayu dan membawa pula dua putri bersaudara. Putri dari dua bersaudara ini bernama Dara Petak, sang Raja terpikat hatinya oleh kecantikannya.
Karena Dara Petak sangatlah cantik dan anggun pandai juga membawa diri, maka Sang Raja menikahi Dara Petak menjadi istrinya yang kelima. Dara Petak menjadi saingan yang paling kuat dari Dyah Gayatri karena ia memang cantik jelita. Sang Raja pun sangat mencintai istri termuda ini yang telah diperistri oleh Sang Raja, lalu Sang istri diberi nama Sri Indraswari.
Terjadilah persaingan diantara para istri dari Raja Raden Wijaya yang dilakukan secara diam-diam namun seru. Persaingan ini dilakukan untuk memperebutkan cinta kasih dan perhatian dari sang Raja. Sang Raja pun tidak menyadari akan persaingan tersebut. Persaingan itu terjadi secara diam-diam diantara mereka sebagai pihak yang bercondong kepada Dyah Gayatri keturunan mendiang Sang Raja Kertanegara dan kepada Dara Petak keturunan Malayu.
Ronggo Lawe yang merupakan seorang Adipati di Tuban berpihak kepada Dyah Gayatri. Karena ia seorang yang amat setia sejak zaman Raja Kertanegara. Persaingan dan kebencian dilakukan secara diam-diam karena tidak ingin sampai Raja mengetahuinya. Akan tetapi, pada saat itu terjadi hal yang mambakar hati Ronggi Lawe, yaitu Pengangkatan Patih Hamangkubumi, yaitu Patih di kerajaan Majapahit. Sang Raja mengangkatnya menjadi pembesar yang tertinggi dan paling berkuasa setelah Raja yaitu Senopati Nambi.
Pengangkatan ini dipengaruhi oleh bujuk rayu Draa Petak. Mendengar kabar itu, Ronggo Lawe pun marah bukan main. Ia sedang makan pun membantingkan nasi di piringnya ke lantai. Bunyi berkerotak pun terdengar dan ujung meja diremasnya menjadi hancur. Tirtowati memperingatkan kepada Ronggo Lawe karena melempar nasi ke lantai itu penghinaan terhadap Dewi Sri dan dapat menjadi kualat. Kedua istriny menghibur Ronggo Lawe dan mencuci tangannya dicuci oleh kedua istrinya dan sang istripun menghiburnya. Adipati Ronggo Lawe pun berangkat ke Majapahit menggunakan Mego Lamat. Mego Lamat adalah satu diantara kuda kesayangan Ronggo Lawe. Seekor kuda yang amat indah dan kuat. Istri Ronggo Lawe pun mencegahnya tetapi tidak didengarkan oleh Adipati karena sedang marah.
Tak lama kemudian, suara derap kaki Mego Lamat memecah kesunyian gedung kadipaten itu, dua orang istri yang cinta dan mengkhawatirkan keselamatan suaminya yang marah. Pada waktu itu, Sang Prabu sedang dihadap oleh para senopati dan punggawa. Mereka terkejut sekali ketika melihat Ronggo Lawe datang menghadap Raja tanpa dipanggil, padahal sudah lama Adipati Tuban tidak datang menghadap Sang Baginda. Sang Raja memandang dengan alis berkerut karena tidak berkenan hatinya, namun Ronggo Lawe pernah menjadi tulang punggungnya di waktu beliau masih berjuang dahulu. Sang Raja pun mengusir ketidaksenangan hatinya dan segera menyapa Ronggo Lawe. Semua muka para penghadap raja menjadi pucat setelah mendengar ucapan Ronggo Lawe, dan semua jantung didalam dada berdebar tegang. Mereka menjadi tahu sifat dan watak Ronggo Lawe yang gagah perkasa dan selalu terbuka, polos, dan jujur. Ronggo Lawe pun berkata pada Sang Raja bahwa pengangkatan Nambi tidak tepat, tidak bijaksansa. Semua senopati dan pembesar yang saat itu menghadap Sang Raja dan mendengar ucapan Ronggo Lawe. Semua terkejut yang berada di gedung dan sebagian besar ada yang marah sekali. Tetapi, mereka tidak berani mencampuri karena mereka menghormati Sang Raja. Sang Prabu tetap tenang, tetap tersenyum memandang Ronggo Lawe.
Setelah mendengar ucapan Ronggo Lawe, akhirnya Sang Raja mengangkat Ronggo Lawe sebagai Raja dan Nambi dihukum karena ia akan membunuh Raja dan seorang yang tidak memiliki wibawa sama sekali.









Kemelut di majapahit

Pada zaman dahulu disebuah kerajaan Majapahit, ada seseorang Raden yang diangkat menjadi raja pertama dikerajaan Majapahit yang diberi gelar kertajasa jaya whardana. Pada saat Raden Wijaya menjadi raja pertama di kerajaan majapahit hubungan dikerjakan sangatlah erat dan baik-baik saja.
Setelah beberapa lama kemudian, ketika sang prabu telah menikahi keempat putri mendiang raja Kartanegara, yang bernama Dyah Tribunan adalah putri yang menjadi permaisuri, ketiga adalah Dyah Jaya Indera Dewi, dan yang terakhir adalah Retno Sutawan atau dengan nama sebutannya Rajapati yang berarti istri yang paling dikasihinya. Tujuan sang prabu mewakili semua putrid mendiang raja kartanegara yaitu adanya balas dendam dan beliau berkeinginan merebut kekuasaan.
Terjadinya guncangan pertama disebuah kerajaan yaitu ketika  sang prabu telah menikah lagi dengan seorang putri dari melayu istrinya yang kelima.
 Seorang putri yang bernama Dyah Gayurti ini adalah putrid bangsa Raja yang terkenal dengan kecantikannya, sehingga  ia dikenal  oleh seluruh Negeri. Akan tetapi, pada saat datangnya  pasukan pamalayu dibawah pimpinan Kebo anarbang atau juga Tnahiso Anarbang nama yang memiliki arti menyebrang ke negeri malayu  dengan membawa kedua orang putri bersaudara. Putri kedua yang bernama Dara Perak membuat sang prabu kartarajasa  terpikat  hatinya oleh kecantikan putri Dara perak. Kemudian sang prabu menikahi putrid para perak menjadi istrinya  yang kelima.
Dara perak menjadi saingan yang paling kuat dari Dyah Gayarti, karena Dara Perak sangat cantik dan pandai .
Pada saat itu terjadinya persaingan diantara para istri untuk memperebutkan cinta sri Baginda agar mereka diangkat derajat kekuasaan masing-masingnya. Persaingan ini dilakukan secara diam-diam sehingga mulailah terjadinya perpecahan diantara pihak  yang mendukung  Dyah Gayatri keturunan mendiang sang prabu kartanegara dan yang berpihak kepada Dara perak keturunan melayu.
Ronggo lawe seorang yang sangat setia sejak zaman prabu kartanegara, berpihak kepada Dyah Gayarti,. Persaingan dan kebencian menjalar menjadi permusuhan  ketika masuknya Dara perak kedalam kehidupan sang prabu. Dan adanya pengangkatan patih hamengku di kerajaan majapahit yang diangkat oleh sang prabu menjadi seseorang yang plaing berkuasa setelah raja.
Pengangkatan patih ini membuat Ronggo Lawe menjadi marah dan semua cegahan kedua istrinya pun sulit untuk mencegah Ronggo lawe, karena adipati sangat marah besar. Pada waktu itu adipati menghadap raja  tanpa di panggil, kemudian sang prabu pun memandang ronggo lawe dengan alis berkerut  tan tidak berkenan hatinya, tetapi karena Ronggo Lawe pernah menjadi orang yang berjasa sang prabu pun menghilangkan rasa ketidak senangan hatinya.
Dengan kemarahan dan kekecewaan adipati Roanggo lawe membuat keberanian  itu muncul, sehingga Ronggo lawe menghadap sang prabu dan melontarkan teguran-teguran kepada sang prabu, teguran seperti itu membuat patih Nambi marah mendengar ucapan-ucapan Ronggo lawe, akan tetapi, sang prabu tetap tersenyum sambil memandang ronggo lawe, dan berbicara alas an dia mengangkat Nambi sebagai patih atau orang yang berkuasa karena dai sudah mendapat persetujuan dari semua paman-pamannya, persetujuan dari kakang seropati dan dari para pembantunya.
Akan tetapi, Ronggo Lawe tetap saja tidak menerima keputusan tersebut. Dan ia menganggap bahwa keputusan tersebut sangat tidak adil, karena menurutnya sang prabu sudah mengangkat orang yang salah. Seseorang yang bodoh, lemah, rendah budi, dan tidak berwibawa. Perkataan-perkataan Ronggo Lawe tidak mempengaruhi paman-pamannya sehingga Nambi masih menjadi patih di majapahit. Dan Ronggo Lawe pun pulang ke kerajaannya dengan penuh kekecewaan.
Setelah lama kemudian Ronggo Lawe dan pasukan kerajaannya mempunyai rencana untuk menyerang kerajaan patih Nambi. Rencana tersebut bertujuan untuk membuktikan bahwa Nambi dan Dara Petak adalah seseorang yang licik dan sangat jahat. Ronggo Lawe mempunyai rasa khawatir apabila Nambi masih menjadi patih kerajaan majapahit, karena Ronggo Lawe mempunyai firasat bahwa selama Nambi masih menjadi patih di kerajaan, kerajaan majapahit akan menjadi hancur.
Pada waktu dilaksanakannya penyerangan ke kerajaan majapahit sang prabu mengira bahwa Ronggo Lawe akan menyerang sang prabu, akan tetapi, Ronggo Lawe hanya menyerang patih Nambi saja. Kemudian patih Nambi marah dan tidak menerima atas perlakuan yang Ronggo Lawe lakukan kepada patih Nambi. Ronggo Lawe segera menjelaskan bahwa seseorang yang diangkat menjadi patih sekarang ini adalah seseorang yang licik dan sangat jahat.
Setelah sang prabu dan paman-pamannya sudah mengetahui kebenarannya kemudian patih Nambi diberhentikan menjadi patih kerajaan, dan patih Nambi dibawa ke panjara bawah tanah untuk menerima hukuman atas perlakuannya.
Kemudian Ronggo Lawe diangkat menjadi patih di kerajaan Majapahit untuk menggantikan patih Nambi.
Setelah Ronggo Lawe menjadi patih di Kerajaan Majapahit kehidupan di kerajaan Majapahit sangatlah membaik dan rakyatnyapun hidup tentram dan damai. Sehingga tidak ada lagi permasalahan yang muncul.









Nama               :
Kelas               :

Kemelut di Majapahit

Ketika Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama yang bergelar Kertajasa Jayawardhana, beliau tidak melupakan jasa para senopati yang setia  membantunya sebelum Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit. Salah satunya Ronggo Lawe diangkat menjadi Adipati di Tuban. Raden Wijaya bersama para senopati memiliki hubungan yang sangat baik. Tetapi, adanya guncangan pertama setelah sang prabu menikahi empat putri mendiang Raja Kartanegara, lalu menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu yang dijadikan istri kelimanya. Sang Prabu mengawini semua putri mendiang Raja Kertanegara karena beliau tidak ingin adanya dendam dan perebutan kekuasaan kelak. Keempat orang putrinya itu adalah Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, kedua adalah Dyah Nara Indradhuhita, ketiga adalah Dyah Jaya Inderadewi, dan yang keempat adalah Dyah Gayatri  putri bungsu dari mendiang Kertanegara yang menjadi istri Raja Kertarajasa yang paling dikasihinya.
Datanglah pasukan pamalayu yang di pimpin oleh seorang senopati perkasa bernama Kebo Anabrang pasukan ini berhasil membawa pulang dua orang putri bersaudara. Putrid yang kedua masih muda yang bernama Dara Petak, ia telah memikat hati sang Prabu dengan kecantikanya. Maka dijadikanlah Dara Petak sebagai istrinya. Setelah itu, terjadilah persaingan antara Dyah Gayatri dengan Dyah Dara Petak dalam memperebutkan perhatian sang prabu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Raja Kertarajasa. Persaingan ini mengakibatkan perpecahan diam-diam diantara mereka karena Ronggo Lawe berpihak kepada Dyah Gayatri, tetapi persaingan tersebut tidak sampai menjalar dan tidak berlangsung lama.
Pengangkatan patih hamangkubumi yaitu patih kerajaan Mojopahit diangkat oleh sang prabu menjadi pembesar yang tertinggi dan paling berkuasa sesudah raja yaitu Senopati Nambi. Ternyata hal tersebut mengejutkan Adipati Ronggo Lawe yang sedang makan, seperti biasa dilayani kedua orang istrinya yaitu Dewi Mertorogo dan tirtowati. Mereka berusaha menghibur suaminya yang sedang marah, tetapi Ronggo Lawe tetap ingin berangkat ke Mojopahit bersama Mego Lamat yaitu seekor kuda kesayangan Adipati Ronggo Lawe yang amat indah dan kuat. Kedua istri tersebut mengkhawatirkan suaminya yang sedang marah itu. Tak lama kemudian, Ronggo Lawe pun sampai di Mojopahit. Pada saat itu, Sang Prabu sedang dihadap oleh para senopati dan punggawa. Mereka semua terkejut saat melihat Ronggo Lawe datang menghadap raja tanpa dipanggil. Raja Kertarajasa terkejut saat mendengar ucapan Ronggo Lawe yang lantang karena mereka semua mengenal sifat dan watak Ronggo Lawe yang selalu terbuka, polos, jujur dan tidak pernah mundur dalam membela gal yang dianggao benar.
Ronggo Lawe meragukan keputusan Raja Kertarajasa dan dianggap tidak bijakasana, serta menganggap snag prabu telah terbujuk dan dipengaruhi oleh suara dari belakang. Ia juga berani melontarkan teguran-teguran kepada Raja Kertarajasa. Semua terkejut dan sebagian besar marah sekali, tetapi mereka tidak berani mencampuri karena mereka menghormati sang prabu.
Sang prabu Kertarajas tetap tenang, bahkan tersenyum memandang kepada Ronggo Lawe dan raja tetap berkata dengan halus, serta menjelaskan suatu keputusan yang telah dipertimbangkan dan telah mendapat persetujuan dari semua paman dan kakang senopati dan semua pembantu.
Namun Ronggo Lawe tidak puas akan sikap sang prabu yang terus bersikap tenang kepada Ronggo Lawe, akhirnya Ronggo Lawe meninggalkan kerajaan dengan penuh kekecewaan. Setelah beberapa hari kemudian, Ronggo Lawe mempunyai rencana untuk menyerang kerajaan Nambi serta segera mengerahkan semua pasukannya untuk segera bersiap-siap. Hal tersebut dilakukan Ronggo Lawe karena ia ingin membuktikan kepada Raja Kertarajasa bahwa Nambi dan Dara Petak bersekongkol untuk menghancurkan kerajaan Majapahit.
Kemudian, Raja Kertarajasa mengetahui semua kebusukan Nambi dan Daya Petak, mereka pun diberi hukuman penjara seumur hidup. Raja Kertarajasa merasa dirinya bersalah kepada Ronggo Lawe, beliau segera mengerahkan pasukannya untuk segera mencari Ronggo Lawe.
Akhirnya Ronggo Lawe diangkat sebagai Patih di kerajaan Majapahit dan semenjak itupun kerajaan Majapahit tidak lagi mengalami masalah, mereka pun hidup aman dan tentram.





contoh surat jual beli tanah

SURAT JUAL BELI MUTLAK TANAH SAWAH Yang bertanda tangan di bawah ini masing-masing bernama Odah, tempat di kampung  ......... Rt 02...