Friday, 5 October 2018

Nama               : Nurul Padillah
Kelas               : XII IPS 3

Kemelut di Majapahit

Setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama yang bergelar Kertajasa Jayawardhana, beliau selalu mengingat jasa-jasa para senopati (perwira) yang selalu setia dan banyak membantunya. Ronggo Lawe diangkat menjadi Adipati.
Tetapi, terjadi guncangan pertama karena sang prabu  telah menikah dengan empat putri mendiang Raja Kartanegara, yang telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu. Putri dari tanah Melayu ini menjadi istri yang kelima dari Prabu Kertarajasa Jayawardhana.  Sebelumnya, Prabu Kertarajasa Jayawardhana telah memperistri semua putri dari mendiang Raja Kertanegara. Hal ini dimaksudkan karena beliau tidak setuju adanya dendam dan perebutan kekuasaan kelak.
Keempat putri yang telah diperistri oleh Prabu adalah Dyah Tribunan, Dyah Nara Indradhuhita, Jaya Inderadewi, dan juga yang disebut Retno Sutawan atau Rajapatni yang berarti “terkasih” karena putri bungsu dari Raja Kertanegara menjadi istri yang paling dikasihi Prabu. Dyah Gayatri ini memang disukai banyak orang, terkenal di hamper seluruh negeri dan orang-orang hingga sastrawan memuja-muja kecantikan seorang Dyah Gayatri. Akan tetapi, pasukan yang diutus oleh mendiang Sang Prabu Kartanegara datang ke negeri Malayu. Pasukan ini bernama pamalayu yang di pimpin oleh seorang senopati perkasa bernama Kebo Anabrang atau Mahisa Anabrang ditugaskan oleh sang prabu untuk menyebrang ke negeri Malayu. Pasukan ini berhasil membawa pulang dua orang putri bersaudara. Sang Prabu Kertarajasa terpikat hatinya oleh kecantikan putri kedua yang kuda yaitu Dara Petak, maka diambillah Dyah Dara Petak untuk dijadikan istri kelima. Dara Petak menjadi saingan yang paling kuat dari Dyah Gayatri. Karena Sang Prabu sangat mencintai istri termudanya ini yang setelah diperistri oleh Sang Baginda, dan diberi nama Sri Indraswari.
Terjadi persaingan para isteri dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian Sei Baginda yang bias mengangkat derajat dan kekuasaan masing-masing. Pengaruh persaingan ini disadari oleh para senopati yang diam-diam di antara mereka lebih memihak kepadah Dyah Gayatri yang merupakan keturunan dari mendiang Sang Prabu Kertanegara, dan kepada Dara Petak keturunan Melayu.
Orang yang lebih condong kepada Dyah Gayatri yang lainnya adalah Ronggo Lawe yang merupakan orang yang amat setia sejak zama Prabu Kertanegara. Terjadinya pertengkaran yang lebih hebat, semua ini dikarenakan masuknya Dara Petak ke dalam kehidupan Sang Prabu. Seopati Nambi diangkat menjadi Patih hamangkubumi, yaitu patih Kerajaan Mojapahit dan menyebabkan hati Ronggo Lawe terbakar.
Pengangkatan patih ini memang penyebab pengaruh bujukan dari Dara Petak. Mendengar berita pengangkatan patih itu Ronggo Lawe yang saat itu sedang makan, Ronggo Lawe marah bukan main. Ia membanting nasinya ke atas lantai dank arena dalam keadaan sedang marah hingga ujung meja diremasnya hingga menjadi hancur.
Ronggo Lawe menghadap raja tanpa di panggil dengan keadaan sedang marah ia berkata sangat lantang mengingatkan paduka dari kekhilafan paduka.
Semua senopati dan pembesar pada saat itu terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Ronggo Lawe kepada Paduka mereka seketika menjadi marah kepada Ronggo Lawe. Namun, Paduka menjawab pertanyaan Ronggo Lawe dengan berkata halus, ia mengatakan bahwa keputusannya itu memang benar dan telah mendapat persetujuan dari semua paman dan kakang senopati. Tetapi, tetap saja Ronggo Lawe tidak setuju dengan keputusan tersebut dan dia malah menghina Nambi sebagai seorang yang bodoh, lemah, rendah hati, penakut dan beranggapan bahwa Nambi sama sekali tidak memiliki wibawa.
Hari-hari Ronggo Lawe dipenuhi rasa dendam dan amarah kepada Nambi yang ingin menghancurkan kerajaan dengan merebut posisi Ronggo Lawe menjadi patih. Nimbi lebih mudah untuk menghancurkan kerajaan. Ronggo Lawe mencoba untuk meyakinkan hal itu kepada paduka namun, paduka tidak yakin akan omongan Ronggo Lawe. Ronggo Lawe khawatir dan tidak tenang akan rencana Nambi yang ingin menghancurkan kerajaan. Setiap hari ia memberi tahu paduka hingga lama-kelamaan Padukapun mendengar pembicaraan Nambi dan Daya Petak yang menginginkan kerajaan hancur dan Nambi pun di panggil untuk menghadap paduka dan di beri hukuman di pecat sebagai patih dan dikeluarkan dari kerajaan oleh paduka.
Setelah pemecatan Nambi menjadi patih, Paduka mengucapkan terima kasih kepada Ronggo Lawe Karena telah berusaha meyakinkan bahwa Nambi berencana dengan Dara Petak untuk menghancurkan kerajaan. Akhirnya, Ronggo Lawe di angkat kembali untuk menjadi Patih di Kerajaan Majapahit.
Semenjak dikeluarkannya Nambi dari kerajaan Majapahit, kehidupan di kerajaan menjadi aman dan tentram, sehingga tidak ada lagi yang ingin menghancurkan kerajaan Majapahit.



ss=MsoNormal style='margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%'> 
Nama               : Sulastri Agustin
Kelas               : XII IPS 3

Kemelut di Majapahit
Sejak tahun 1293 abad ke-4 M. Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Para senopati di kerajaan tersebut mendapat pangkat dari Raden Wijaya. Dan yang menjadi  adipati di kerajaan Majapahit yaitu Ronggo Lawe, beliaupun diberi pangkat pula.
Setelah itu keempat putri mendiang Raja Kertanegara dinikahi oleh Sang Prabu, dan beliau pun telah menikahi seorang putri dari Melayu. Semenjak dari situlah hubungan junjungan antara pembantunya yang amatlah erat dan baik mengalami guncangan akibat pernikahan tersebut.
Keempat putri yang dinikahinya bernama Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, kedua adalah Dyah Nara Indradhuhita, ketiga adalah Dyah Jaya Inderadewi, dan yang selanjutnya sering disebut dengan Retno Sutawan atau Rajapatni yang berarti “terkasih”. Putri bungsu yaitu Dyah Gayatri yang amat cantik jelita seperti dewi kahyangan, terkenal di seluruh negeri akan kecantikannya. Pasukan yang datang beberapa tahun lalu yang diutus oleh mendiang Sang Prabu Kertanegara menuju ke negeri Melayu. Pasukan tersebut bernama pasukan pamalayu yang di pimpin seorang senopati yang bernama Kebo Anbrang. Pasukan Pamalayu berhasil membawa pulang dua orang putri bersaudara. Diantara putri bersaudara tersebut Sang Prabu terpikat hatinya akan kecantikan sang putri yang bernama Dara Petak dan kemudian dinikahinya menjadi istri yang kelima. Dan ternyata Dara Petak mejadi saingan dari Dyah Gayatri. Istri termuda sang prabu diberi nama Sri Indrawari.
Terjadilah persaingan di antara para istri dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian Sang Baginda. Persainag tersebut terasa pengaruhnya oleh para senopati.
Sebagai seorang yang setia sejak Prabu Kertanegara, tentu saja Ronggo Lawe berpihak kepada Dyah Gayatri. Dari situlah terjadi hal-hal yang lebih hebat sebagai akibat masuknya Dara Perak ke dalam kehidupan Sang Prabu. Setelah itu pengangkatan Patih Kerajaan Majapahit yang diangkat oleh Sang Prabu menjadi pembesar yang tertinggi yaitu Senopati Nambi.
Adipati Ronggo Lawe marah ketika mendengar akan pengangkatan Patih Kerajaan Majapahit. Pada saat itu Adipati Ronggo Lawe sedang amkan yang selalu dilayani oleh para istrinya yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati.
Para istripun menghibur suaminya, dan juga memperingatkan penghinaan terhadap Dewi Sri karena telah melempar nasi ke lantai. Akan tetapi Ronggo Lawe bangkit membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua istrinya.
Seketika itu Ronggi Lawe menghadap raja tanpa di panggil. Di dalam kemarahan dan kekecewaan. Adipati Ronggo Lawe menghadap paduka untuk menyembah dengan suara lantang. Patih Nambi dan Senopati Kebo Anabrang merasa gemas akan perlakuan Ronggo Lawe. Lembu Sora pun tak mengira bahwa keponakannya seberani itu. Senopati-senopati Gagak Sarkoro dan Mayang Mekar juga memandang dengan mata terbelalak.
Tujuan dari pengangkatan tersebut merupakan suatu keputusan yang telah dipertimbangkan secara matang-matang, dan mendapat persetujuan dari semua pihak yang terlibat. Ronggo Lawe masih bersikukuh dengan keputusannya bahwa senopati Nambi tidak layak menjadi patih kerajaan Majapahit. Karena Ronggo Lawe telah mengetahui sepak terjang si Nambi dahulu dia seorang bodoh, lemah, penakut, rendah budi dan sama sekali tidak berwibawa.
Setelah mengetahui semua kelakuan kakang Nambi yang bekerjasama dengan Dara Petak, Sang Prabu Kertarajasa merasa kecewa lantas apa yang dilakukan Nambi saat pemilihan patih hamangkubumi. Akhirnya kakang Nambi pun di penjara dan pengangkatan Patih hamangkubumi diganti oleh Ronggo Lawe.
Dan setelah pengangkatan tersebut di ganti oleh Ronggo Lawe, kehidupan di Kerajaan Majaphit menjadi aman, damai, tentra, dan terkendali.






Nama               : Sulastri Agustin
Kelas               : XII IPS 3

Kemelut di Majapahit
Sejak tahun 1293 abad ke-4 M. Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Para senopati di kerajaan tersebut mendapat pangkat dari Raden Wijaya. Dan yang menjadi  adipati di kerajaan Majapahit yaitu Ronggo Lawe, beliaupun diberi pangkat pula.
Setelah itu keempat putri mendiang Raja Kertanegara dinikahi oleh Sang Prabu, dan beliau pun telah menikahi seorang putri dari Melayu. Semenjak dari situlah hubungan junjungan antara pembantunya yang amatlah erat dan baik mengalami guncangan akibat pernikahan tersebut.
Keempat putri yang dinikahinya bernama Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, kedua adalah Dyah Nara Indradhuhita, ketiga adalah Dyah Jaya Inderadewi, dan yang selanjutnya sering disebut dengan Retno Sutawan atau Rajapatni yang berarti “terkasih”. Putri bungsu yaitu Dyah Gayatri yang amat cantik jelita seperti dewi kahyangan, terkenal di seluruh negeri akan kecantikannya. Pasukan yang datang beberapa tahun lalu yang diutus oleh mendiang Sang Prabu Kertanegara menuju ke negeri Melayu. Pasukan tersebut bernama pasukan pamalayu yang di pimpin seorang senopati yang bernama Kebo Anbrang. Pasukan Pamalayu berhasil membawa pulang dua orang putri bersaudara. Diantara putri bersaudara tersebut Sang Prabu terpikat hatinya akan kecantikan sang putri yang bernama Dara Petak dan kemudian dinikahinya menjadi istri yang kelima. Dan ternyata Dara Petak mejadi saingan dari Dyah Gayatri. Istri termuda sang prabu diberi nama Sri Indrawari.
Terjadilah persaingan di antara para istri dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian Sang Baginda. Persainag tersebut terasa pengaruhnya oleh para senopati.
Sebagai seorang yang setia sejak Prabu Kertanegara, tentu saja Ronggo Lawe berpihak kepada Dyah Gayatri. Dari situlah terjadi hal-hal yang lebih hebat sebagai akibat masuknya Dara Perak ke dalam kehidupan Sang Prabu. Setelah itu pengangkatan Patih Kerajaan Majapahit yang diangkat oleh Sang Prabu menjadi pembesar yang tertinggi yaitu Senopati Nambi.
Adipati Ronggo Lawe marah ketika mendengar akan pengangkatan Patih Kerajaan Majapahit. Pada saat itu Adipati Ronggo Lawe sedang amkan yang selalu dilayani oleh para istrinya yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati.
Para istripun menghibur suaminya, dan juga memperingatkan penghinaan terhadap Dewi Sri karena telah melempar nasi ke lantai. Akan tetapi Ronggo Lawe bangkit membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua istrinya.
Seketika itu Ronggi Lawe menghadap raja tanpa di panggil. Di dalam kemarahan dan kekecewaan. Adipati Ronggo Lawe menghadap paduka untuk menyembah dengan suara lantang. Patih Nambi dan Senopati Kebo Anabrang merasa gemas akan perlakuan Ronggo Lawe. Lembu Sora pun tak mengira bahwa keponakannya seberani itu. Senopati-senopati Gagak Sarkoro dan Mayang Mekar juga memandang dengan mata terbelalak.
Tujuan dari pengangkatan tersebut merupakan suatu keputusan yang telah dipertimbangkan secara matang-matang, dan mendapat persetujuan dari semua pihak yang terlibat. Ronggo Lawe masih bersikukuh dengan keputusannya bahwa senopati Nambi tidak layak menjadi patih kerajaan Majapahit. Karena Ronggo Lawe telah mengetahui sepak terjang si Nambi dahulu dia seorang bodoh, lemah, penakut, rendah budi dan sama sekali tidak berwibawa.
Setelah mengetahui semua kelakuan kakang Nambi yang bekerjasama dengan Dara Petak, Sang Prabu Kertarajasa merasa kecewa lantas apa yang dilakukan Nambi saat pemilihan patih hamangkubumi. Akhirnya kakang Nambi pun di penjara dan pengangkatan Patih hamangkubumi diganti oleh Ronggo Lawe.
Dan setelah pengangkatan tersebut di ganti oleh Ronggo Lawe, kehidupan di Kerajaan Majaphit menjadi aman, damai, tentra, dan terkendali.








ustify;text-indent:.5in;line-height:150%'> 



Nama               : Leni Fauziah
Kelas               : XII IPS 3

Kemelut di Majapahit
Di tahun 1293 abad ke-4 M. Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana, beliau tidak lupa jasa-jasa para senopati yang telah banyak membantunya. Sejak itu Kartarajasa Jayawardhana membagikan pangkat kepada Ronggo Lawe menjadi adipati di Tuban dan yang lainnya pun diberi pangkat pula.
Kemudian, guncangan pertama memengaruhi hubungan ini, ketika Sang Prabu menikah dengan empat putri mendiang Raja Kertanegara telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu. Sebelum puteri dari tanah Melayu menjadi istri kelimanya, ternyata Prabu Kertarajasa Jayawardhana sudah mengawini semua putri mendiang Raja Kertanegara.
Keempat putri itu adalah Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, kedua yaitu Dyah Nara Indradhuhita, ketiga adalah Dyah Jaya Inderadewi atau yang dikenal dengan Retno Sutawan atau Rajapatni  yang berarti “terkasih”. Dyah Gayatri yang bungsu ini memang  cantik jelita seperti seorang dewi kahyangan, kecantikkannya terkenal di seluruh negeri dan dipuja-puja para sastrawan. Tetapi datang pasukan beberapa tahun lalu yang diutus oleh mendiang Sang Prabu Kertanegara ke negeri Melayu. Pasukannya dinamakan pasukan pamalayu di pimpin seorang senopati bernama Kebo Anbrang atau Mahesa Anabrang, yang diberikan oleh sang Prabu mengingat akan tugasnya menyebrang (Anabrang) ke negeri Melayu. Pasukan ekspedisi ini membawa pulang dua putri yaitu Dara Petak, Sang Prabu Kertarajasa terpikat oleh kecantikannya, dan kemudian dijadikanlah istri yang kelima. Ternyata Dara Petak menjadi saingan kuat Dyah Gayatri karena Dara Petak cantik jelita dan Sang Prabu sangat mencintainya, lalu diberi nama Sri Indraswari.
Terjadilah persaingan di antara para istri, persaingan dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian Sri Baginda yang akan mengangkat derajat dan kekuasaan. Persaingan dan kebencian yang dilakukan secara diam-diam tidak sampai menjalar menjadi permusuhan terbuka. Kiranya tidak ada terjadi hal-hal yang hebat akibat masuknya Dara Petak ke dalam kehidupan Sang Prabu. Sekiranya tidak terjadi hal yang membakar hati Ronggo Lawe, yaitu pengangkatan Patih Hamangkubumi, yaitu patih kerajaan Majapahit. Di angkat oleh Sang Prabu pembesar yang tertinggi dan paling berkuasa.
Pengangkatan ini memang banyak terpengaruh oleh bujukan Dara Petak, akan pengangkatan patih ini, merahlah muka Adipati Ronggo Lawe ketika mendengar berita ini yang sedang makan, yang biasa dilayani kedua istrinya, yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtawati. Seorang penyelidik datang menghadap Adipati yang sedang makan, Ronggo Lawe marah bukan main. Nasi yang dikepalnya di banting ke atas lantai karena kemarahan sang adipati menggunakan aji kedigjayaannya, maka nasi sekepal itu amblas ke lanati. Kemudian adipati Ronggo Lawe bangkit berdiri, membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua istrinya yang berusaha menghibur.
Waktu itu senopati dan pembesar yang saat itu menghadap Sang Prabu dan mendengar ucapan-ucapan Ronggo Lawe, semua terkejut dan sebagian besar marah sekali, tetapi mereka tidak berani mencampuri karena mereka menghormati Sang Prabu. Tetapi Sang Prabu Kertarajasa tetap tenang, bahkan tersenyum memandang kepada Ronggo Lawe, ponggawanya yang amat setia kepadanya, dan menjelaskan tindakannya mengangkat kakang Nambi sebagai Patih hamangkubumi itu merupakan suatu keputusan yang telah dipertimbangkan dengan matang-matang dan telah mendapatkan persetujuan dari semua pembantunya.
Setelah itu Ronggo Lawe berkata lantang bahwa kakang Nambi itu adalah orang yang bodoh, lemah, rendah budi, penakut dan sama sekali tidak memiliki wibawa dan Prabu Kertanegara pun ikut mengetahuinya.
Setelah Prabu Kertanegara mengetahui tentang kakang Nambi, pengangkatan hamangkubumi itu tidak jadi diberikan kepada kakang Nambi tetapi akan diberikan kepada Ronggo Lawe, karena kakang Nambi itu adalah orang yang tidak berwibawa. Mendengar semua itu kakang Nambi marah besar dan memiliki dendam akan membunuh Ronggo Lawe, kemarahannya itu terdengar oleh Prabu Kaertanegara dan kemudian Prabu Kertanegara memanggil kakang Nambi dan langsung menjebloskannya ke penjara.
Akhirnya Prabu Kertanegara mengangkat Ronggo Lawe menjadi patih hamangkubumi dan setelah Ronggo Lawe menjadi patih hamangkubumi kerajaan Majapahit pun menjadi aman dan tentram.










Nama               : Linda Lugina
Kelas               : XII IPS 3

Kemelut di Majapahit

Raden Wijaya bermimpi ingin menjadi Raja Majapahit kemudian berusaha dengan letih untuk mewujudkan cita-citanya. Akan tetapi perjuangannya tidak sangatlah mudah, kemudian Raden Wijaya dibantu oleh para senopati (perwira) hari demi hari Raden Wijaya berhasil melewati rintangan yang dialaminya.
Setelah itu, Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana, namun beliau tidak pernah melupakan para senopati (perwira) karena mereka telah setia dan banyak membantu untuk mewujudkan cita-citanya Raden Wijaya. Atas ucapan terima kasihnya beliau memberikan pangkat kepada mereka. Ronggo Lawe diangkat menjadi Adipati di Tuban dan hubungan mereka menjadi sangatlah erat dan baik.
Akan tetapi, kerajayaan Majapahit mengalami guncangan yang pertama sehingga memengaruhi hubungan mereka menjadi tidak baik yang disebabkan oleh sang prabu menikah dengan empat putri mendiang Raja Kartanegara, setelah itu sang prabu menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu. Sebelum putri Melayu menjadi istri kelima, sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana telah menikahi semua putri mendiang Raja Kertanagara. Hal ini bertujuan agar beliau tidak menghendaki adanya dendam dan perebutan kekuasaan.
Nama keempat putri itu adalah Dyah Tribuan yang menjadi permaisuri, yang kedua Dyah Nara Indradhuhita, yang ketiga adalah Dyah Jaya Inderadewi, dan putri yang paling bungsu adalah Retno Sutawan atau Rajapatni putri yang paling dikasihinya. Dyah Gayatri ini putri yang paling bungsu yang sangatlah cantik jelita seperti seorang dewi yang turun dari kahyangan, kecantikkannyapun sangatlah terkenal dan dipuja-puja oleh para sastrawan dimasa itu. Akan tetapi, datanglah pasukan yang diutus oleh prabu Kartanagara ke negeri Malayu. Pasukan ini dinamakan pamalayu yang dipimpin oleh Anabrang, nama yang diberikan oleh sang prabu karena dia bertugas sebagai penyebrang (Anabrang) ke negeri Malayu. Pasukan ekspedisi yang berhasil membawa dua orang putri bersaudara. Putri yang kedua paling muda bernama Dara Petak, sang Prabu Kartarajasa terpikat hatinya oleh kecantikan Dara Petak, maka dipinanglah Dyah Dara Petak untuk dijadikan istri kelima, kemudian pernikahan itu menimbulkan persaingan kuat antara Dyah Gayatri dan Dyah Petak, karena Dyah Petak memang sangatlah cantik jelita dan pandai membawa diri. Sang Prabu sangat mencintai istri termuda itu yang diperistri oleh sang Baginda diberi nama Sri Indraswari.
Kejadian itu menimbulkan persaingan diantara para istri, yang dilakukan secara diam-diam dan semakin memanas, persaingan dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian Sri Baginda yang tentu saja akan mengangkat derajat dan kekuasaan masing-masing. Sang Prabu kurang menyadari persaingan ini. Pengaruh persaingan itu terasa benar oleh para senopati dan mulailah terjadi perpecahan diantara mereka, sebagian pihak mendukung Dyah Gayatri keturunan mendiang Sang Prabu Kartanegara, dan kepada Dara Petak keturunan Malayu.
Ronggo Lawe sebagai seorang yang setia sejak zaman Prabu Kartanegara berpihak kepada Dyah Gayatri. Namun karena segan kepada sang Prabu Kertarajasa yang bijaksana, persaingan dan kebencian yang dilakukan secara diam-diam itu tidak menjalar menjadi permusuhan terbuka. Masuknya Dara Petak ke dalam kehidupan sang Prabu adalah panasnya hati Ronggo Lawe, yaitu pengangkatan patih Hamangkubumi, yaitu patih kerajaan Majapahit yang diangkat oleh sang Prabu menjadi pembesar yang tertinggi dan paling berkuasa sesudah raja yaitu senopati Nambi.
Pengangkatan ini memang banyak terpengaruh oleh bujukan Dara Petak. Pengangkatan tersebut pun sampai di telinga Adipati Ronggo Lawe ketika sedang makan, yaitu seperti biasa dilayani oleh dua orang istri yang setia, yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati. Mendengar berita itu Ronggo Lawe marah besar. Nasi yang dikepalnya dibanting ke lantai karena dalam kemarahan sang adipati menggunakan kekuatannya, maka nasi sekepal itu amblas ke dalam lantai. Kemudian ujung meja itu dihancurkan oleh Ronggo Lawe.
“Kakangmas adipati…..harap paduka tenang…” Dewi Mertorogo menghibur suaminya. “Ingatlah, kakangmas adipati sungguh merupakan hal yang kurang baik mengembalikan berkah Ibu Pertiwi seperti itu….” Tirtowati juga memperingati karena melempar nasi ke atas lantai seperti itu penghinaan terhadap Dewi Sri dan dapat menjadi kualat. Akan tetapi, Adipati Ronggo Lawe bangkit berdiri, membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua istrinya yang berusaha menghiburnya. “Aku harus pergi sekarang juga!” kata Ronggo Lawe. “Pengawal lekas suruh persiapkan si Mego Lamat di depan! Aku akan berangkat ke Majapahit sekarang juga!” Mego Lamat adalah satu diantara kuda-kuda kesayangan Adipati Ronggo Lawe, seekor kuda yang amat Indah dan kuat, warna bulunya abu-abu muda. Semua cegahan kedua istrinya sama sekali tidak didengarkan oleh adipati yang sedang marah.
Tak lama kemudian, hanya suara derap kaki Mego Lamat yang berlari congkalang yang memecah kesunyian gedung kadipaten itu, mengiris perasaan dua orang istri yang mencintai dan mengkhawatirkan keselamatan Ronggo Lawe yang sedang marah. Pada waktu itu, sang Prabu sedang dihadap oleh para senipati dan punggawa. Semua penghadap adalah kawan-kawan seperjuangan Ronggo Lawe dan mereka sangat terkejut melihat Ronggo Lawe datang menghadap raja tanpa dipanggil, padahal sudah lama Adipati Tuban ini tidak datang menghadap Sri Baginda. Sang Prabu sendiri juga memandang dengan alis berkerut tanda tidak berkenan hatinya dan segera menyapa Ronggo Lawe. Di dalam kemarahan dan kekecewaan, Adipati Ronggo Lawe masih ingat untuk mengucapkan salamnya, tetapi setelah semua salam tata susila ini selesai, serta merta Ronggo Lawe menyembah dan berkata dengan suara lantang, “Hamba sengaja datang menghadap paduka untuk mengingatkan paduka dari kekhilafan yang paduka lakukan diluar kesadaran paduka!” Semua muka para penghadap raja menjadi pucat mendengan ucapan ini, dan semua jantung di dalam dada berdebar tegang. Mereka semua mengenal belaka sifat dan watak Ronggo Lawe, banteng Mojopahit yang gagah perkasa dan selalu terbuka, polos, jujur, dalam mengemukakan suara hatinya, tidak akan mundur setapak pun dalam membela hal yang dianggap benar. Sang Prabu memandang dengan mata penuh perhatian, kemudian dengan suara tenang bertanya, “Kakang Ronggo Lawe, apa maksudmu dengan ucapan itu?”
“Yang hamba maksudkan tidak lain adalah pengangkatan Nambi sebagai Pepatih Paduka! Keputusan yang paduka ambil ini sungguh-sungguh tidak tepat, tidak bijaksana dan hamba yakin bahwa paduka tentu telah terbujuk dan dipengaruhi oleh suara dari belakang! Pengangkatan Nambi sebagai patih hamangkubumi sungguh merupakan kekeliruan yang besar, tidak tepat dan tidak adil, padahal paduka terkenal sebagai seorang maharaja yang arif bijaksana dan adil!”
Hebat bukan main ucapan Ronggo Lawe! Seorang adipati tanpa dipanggil, berani datang menghadap sang prabu dan melontarkan teguran-teguran! Muka Patih Nambi pucat dan memerah, kedua tangannya dikepal dan dibuka dengan jari-jari gemetar. Senopati Anabrang mukanya memerah seperti udang rebus, matanya yang lebar itu seperti mengeluarkan api ketika dia melihat ke arah Ronggo Lawe. Lembu Sora yang sudah tua itu mukanya menjadi pucat, tak mengira bahwa keponakannya itu akan seberani itu. Senopati-senopati galak Sarkono dan Mayang Mekar memandang dengan mata yang tajam. Pendeknya, semua senopati dan pembesar yang saat itu menghadap sang prabu dan mendengan ucapan-ucapan Ronggo Lawe, semua terkejut dan sebagian besar marah sekali, tetapi mereka tidak berani mencampuri karena mereka menghormati sang prabu. Akan tetapi, Sang Prabu Kertarajasa tetap tenang, bahkan tersenyum memandang kepada Ronggo Lawe, ponggawanya yang dia tahu amat setia kepadanya itu, lalu berkata halus, “Kakang Ronggo Lawe, tindakanku mengangkat Kakang Nambi sebagai patih hamangkubumi, bukanlah merupakan tindakan ngawur belaka, melainkan merupakan suatu keputusan yang telah dipertimbangkan matang-matang, bahkan telah mendapatkan persetujuan dari semua paman dan kakang senopati dan semua pembantuku. Bagaimana kakang Ronggo Lawe dapat mengatakan bahwa pengangkatan itu tidak tepat dan tidak adil?” Dengan muka merah, kumisnya yang seperti kumis sang Gatotkaca itu bergetar, napas memburu karena desakan amarah, Ronggo Lawe berkata lantang. “Tentu saja tidak tepat! Paduka sendiri tahu siapa si Nambi itu Paduka tentu masih ingat akan segala sepakterjang dan tindak-tanduknya dahulu! Dia seseorang yang bodoh, lemah, rendah budi, penakut, sama sekali tidak memiliki wibawa….”
Semenjak Sang Prabu mengetahui Kakang Nambi bekerjasama dengan Dara Petak, Sang Prabu Kertarajasa merasa kecewa dan merasa dikhianati, kemudian kaknng Nambi saat pemelihan patih akakang Nambi pun dihukum penjara dan pengangkatan patih hamengkubumi digantikan oleh Ronggo Lawe.
Dan setelah pengangkatan patih hamangkubumi tersebut diganti oleh Ronggo Lawe, kehidupan di kerajaan Majapahit pun menjadi aman, tentram, damai dan makmur.









kemelut kerajaan majapahit

Kemelut di Majapahit
Dikisahkan di sebuah kerajaan yang bernama Majapahit ada seorang laki-laki bernama Raden Wijaya yang diangkat sebagain raja pertama kerajaan Majapahit. Beliau pun tidak melupakan jasa-jasa para senopati yang setia membantunya sejak dulu. Mereka masing-masing diberikan pangkat, Ronggo Lawe pun diangkat menjadi adipati di Tuban.
Sang Raja menikahi empat putri mendiang raja Kartanegara, ia menikahi empat putri tersebut karena beliau tidak ingin menghendaki adanya dendam dan perebutan kekuasaan kelak, tiba-tiba tanpa diduga oleh siapapun Sang Raja telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu. Istri-istri sang Raja amatlah terkejut. Keempat putri yang diperistrin oleh Raja Raden Wijaya antara lain Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, yang kedua Dyah Nara Indraduhita, yang ketiga Dyah Jaya Inderadewi yang sangat ia kasihi dibandingkan dengan istri yang lainnya dan yang keempat Dyah Gayatri yang merupakan putri bungsu dari mendiang Raja. Saat itu sang Prabu terpikat hatinya oleh seorang Putri yang bernama Dara Petak dan menjadikan istri yang kelima.
Kemudian terjadilah persaingan dari diantara para istri Raden Wijaya yang dilakukan secara diam-diam. Persaingan ini dilakukan secara diam-diam. Persaingan ini dilakukan untuk memperebutkan cinta serta kasih sayang dan perhatian dari sang Raja, tetapi Raja tidak menyadari akan persaingan tersebut, karena mereka tidak menunjukkannya di depan Raja. Namun persainagn tersebut terasa oleh para senopati, dari sanalah perpecahan secara diam-diam telah terjadi antara mereka yang berpihak kepada Dyah Gayatri selaku putri dari mendiang Raja dan mereka yang berpihak kepada Dara Petak selaku Putri dari keturunan negeri Melayu.
Ronggo Lawe berpihak kepada Dyah Gayatri karena ia adalah seorang istri yang amat setia saat zaman mendiang Raja Kartanegara. Persaingan pun dilakukan dengan sangat rapi, karena tidak ingin diketahui raja. Akan tetapi, pada saat itu terjadi hal yang membakar hati Ronggo Lawe, yaitu ketika diangkatnya Patih Hamengkubumi, Patih dikerajaan Majapahit. Sang Raja mengangkatnya menjadi pembesar yang tertinggi dan paling berkuasa setelah raja, yaitu senopati Nambi. Pengangkatan ini didasari dan dipengaruhi oleh bujuk rayu Dara Petak. Mendengar kabar itu Ronggo Lawe marang tak terbendung, ia yang sedang makanpun membantingkan nasi dipiringnya ke lantai, kedua istri Ronggo Lawe yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati pun terkejut atas hal yang dilakukan suaminya. Kedua istrinya pun menenangkan Ronggo Lawe agar tidak berlarut-larut dalam kemarahannya itu. Akan tetapi, ia sudah terlanjur marah dan ia pun pergi menghadap Sang Raja Raden Wijaya. Semula kedua istrinya mencegah Ronggo Lawe untuk pergi tapi Ronggo Lawe ngotot dan tetap pergi ke kerajaan Majapahit dan didampingi oleh kuda kesayangannya.
Tak lama diperjalanan, Ronggo Lawe tiba di kerajaan Majapahit. Semua penghuni kerajaan amat terkejut ketika Ronggo Lawe datang tak ada angin dan tak ada hujan datang ke kerajaan Majapahit tanpa dipanggil terlebih dahulu. Padahal sudah lama adipati Tuban ini tidak berunjung ke kerajaan Majapahit. Sang Raja terheran-heran dengan kedatangan Ronggo Lawe. Namun ia berfikir positif terhadap Ronggo Lawe karena Ronggo Lawe merupakan tulang punggungnya yang sangat setia dan mengabdi kepadanya. Didalam kemarahan dan kekecewaan hatinya, Ronggo Laweu pun menyembah dan berkata dengan suara lantang. “Hamba sengaja mendatangi kerajaan ini menghadap paduka dengan maksud untuk mengingatkan paduka dari kekhilafan yang paduka lakukan diluar kesadaran Paduka!” Semua orang yang menyaksikan kerajaan tersebut langsung terbelalak ketika mendengar apa yang diucapkan Ronggo Lawe terhadap sang Raja. Sang Raja pun memandangnya dengan mata penuh perhatian, kemdudian dengan kewibawaannya ia bertanya “Kakang Ronggo Lawe, apakah meksudmu dengan ucapan itu?” Ronggo Lawe pun menjawab pertanyaan Raja Raden Wijaya dengan lantang dan tanpa adanya keraguan “Yang hamba maksudkan tidak lain dan tidak bukan adalah pengangkatan Nambi sebagai patih Paduka! Keputusan yang paduka ambil ini sungguh tidak tepat dan tidak bijaksana. Hamba yakin bahwa paduka telah terbujuk dan dipengaruhi oleh suara di belakang! Pengangkatan Nambi sebagai Patih Hamangkubumi merupakan suatu kekeliruan ynag sangat besar. Padahal paduka terkenal sebagai seorang Maharaja yang arif, bijaksana, dan adil!”
Sungguh hebat sekali ucapan yang dilontarkan oleh Ronggo Lawe itu, ia tidak ragu menghadap snag Raja tanpa dipanggil dan menegur Raja dengan lantangnya. Semua senopati dan pembesar yang saat itu ada di tempat kejadian sangat terkejut dan sebagian besar marah sekali, tetapi mereka tidak berani mencampuri urusan itu karena menghormati Sang Raja. Tetapi, Sang Raja tetap tenang bahkan tersenyum ketika memadang Ronggo Lawe, lalu berkata “Kakang Ronggo Lawe, tindakanku mengangkat Kakang Nambi sebagai patih Hamangkubumi bukanlah tindakan ngawur belaka, melainkan telah dipikirkan secara matang, bahkan telah mendapat persetujuan dari semua paman dan kakang senopati serta semua pembantuku. Bagaimana Kakang Ronggo Lawe bias mengatakan bahwa pengangkatan itu tidak tepat dan tidak adil?” Dengan suara yang dirundung oleh amarah, Ronggo Lawe berkata lantang “Tentu saja tidak tepat! Paduka sendiri tahu siapa itu Nambi! Paduka tentu masih ingat akan segala tindak-tanduk dan sepak terjangnya dahulu! Dia itu seorang bodoh, lemah, rendah budi, penakut, tidak sama sekali memiliki kewibawaan” . mendengar ucapan itu, Raja tetap bersikukuh bahwa pilihan mengangkat Nambi sebagai Patih adalah keputusan tepat. Hal it membuat Ronggo Lawe marahnya memuncak dan tidak dapat diredam lagi. Ronggo lawe pun berkata ”Hamba sangat kecewa dengan keputusan yang paduka ambil. Mulai saat ini dan detik ini juga tali persaudaraan yang sudah kita rajut bersama sampai cukup disini! Jangan pernah cari hamba apabila ada sesuatu yang terjadi dengan paduka dan kerajaan Paduka! Hamba cukup sakit dengan semua yang telah paduka lakukan ini!”. Setelah mengucapkan ucapan kata tersebut Ronggo Lawe pun pergi meninggalkan kerajaan Majapahit dengan kekecewaan yang sangat mendalam. Raja pun snagat sedih dengan hal yang dilakukan oleh Ronggo Lawe. Ia sempat mencegah agar Ronggo Lawe tidak pergi, tapi Ronggo Lawe membulatkan tekad untuk pergi jauh serta meninggalkan semua kenangan bersama Raden Wijaya.
Akhirnya, putus sudah tali persaudaraan diantara mereka yang sudah terjalin sekian lama. Raja pun berharap semoga Ronggo Lawe tetap dalam keadaan baik-baik saja, meskipun sudah tidak berada disisinya lagi sebagai orang setia mendampingi Raja. Ia akan tetap dan selalu mengenang masa-masa indahnya ketika masih bersama dengan Ronggo Lawe.




cerita Majapahit

Kemelut di Majapahit
(S.H. Mintardja)

            Setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama bergelar Kertaraja Jayawardhana. Ronggo Lawe diangkat menjadi adipati di Tuban dan yang lain-lain pun diberi pangkat pula.
            Akan tetapi, guncangan pertama yang mempengaruhi hubungan ini adalah ketika Sang Prabu telah menikah dengan empat putri mendiang Raja Kertanegara, telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu. Sebelum putri dari tanah Melayu ini menjadi istri kelima, Sang Prabu Kertajasa Jayawardhana telah mengawini semua putri mendiang Raja Kertanegara. Hal ini dilakukannya karena beliau tidak menghendaki adanya dendam dan perebutan kekuasaan kelak.
            Terjadilah persaingan di antara para istri ini, yang tentu saja dilakukan secara diam-diam namun cukup seru, persaingan dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian Sri Baginda yang tentu saja akan mengangkat derajat dan kekuasaan masing-masing.
            Tentu saja Ronggo Lawe, sebagai seorang yang amat setia sejak zaman Prabu Kertanegara, berpihak kepada Dyah Gayatri. Namun, karena segan kepada Sang Prabu Kertarajasa yang bijaksana, persaingan dan kebencian yang dilakukan secara diam-diam itu tidak sampai menjalar menjadi permusuhan terbuka.
            Pengangkatan ini memang banyak dipengaruhi oleh bujukan Dara Petak. Mendengar akan pengangkatan Patih ini, merahlah muka Adipati Ronggo Lawe. Ketika mendengar berita ini dia sedang makan, seperti biasa dilayani oleh kedua istrinya yang setia, yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati. Mendengar berita itu dari seorang penyelidik yang datang menghadap pada waktu sang adipati sedang makan, Ronggo Lawe marah bukan main. Nasi yang sudah dikepalnya itu dibanting ke atas lantai dan kerena kemarahan tadi sang adipati menggunakan aji kadigjayaannya, maka nasi sekepal itu amblas ke dalam lantai.
            Akan tetapi, Adipati Ronggo Lawe bangkit berdiri, membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua orang istrinya yang berusaha menghiburnya. “Aku harus pergi sekarang juga!” katanya. “Pengawal lekas suruh persiapkan si Mego Lamat di depan! Aku akan berangkat ke Mojopahit sekarang juga!” Mego Lamat adalah satu di antara kuda-kuda kesayangan Adipati Ronggo Lawe, seekor kuda yang amat indah dan kuat, warna bulunya abu-abu muda.
            Semua penghadap adalah bekas kawan-kawan seperjuangan Ronggo Lawe dan mereka ini terkejut sekali ketika melihat Ronggo Lawe datang menghadap raja tanpa dipanggil, padahal sudah agak lama Adipati Tuban ini tidak datang menghadap Sri Baginda. Sang Prabu sendiri memandang dengan alis berkerut tanda tak berkenan hatinya.
            Hebat bukan main ucapan Ronggo Lawe ini! Seorang adipati, tanpa dipanggil, berani datang menghadap sang Prabu dan melontarkan teguran-teguran seperti itu! Muka Patih Nambi sebentar pucat sebentar marah, kedua tangannya dikepal dan dibuka dengan jari-jari gemetar.

            “Kakang Ronggo Lawe, tindakanku mengangkat kakang Nambi sebagai patih hamangkubumi, bukanlah merupakan tindakan ngawur belaka, melainkan telah merupakan satu keputusan yang telah dipertimbangkan masak-masak, bahkan telah mendapat persetujuan dari semua paman dan kakang senopati dan semua pembantuku. Bagaimana kakang Ronggo Lawe dapat mengatakan bahwa pengangkatan ini tidak tepat dan tidak adil?”   

contoh surat jual beli tanah

SURAT JUAL BELI MUTLAK TANAH SAWAH Yang bertanda tangan di bawah ini masing-masing bernama Odah, tempat di kampung  ......... Rt 02...